Pages

Sunday, May 11, 2014

MEDITASI KRISTIANI DAN PERISTIWA ROSARIO SUCI




 

PERJALANAN MEDITASI DAN PERISTIWA-PERISTIWA DOA ROSARIO SUCI

Oleh : Sr. Ignatio, OSU

Dalam menekuni Meditasi Kristiani, saya menyadari adanya kesejajaran dalam menjalani tahapan-tahapan meditasi dengan biografi Tuhan kita Yesus Kristus, yang kita renungkan bersama dalam peristiwa-peristiwa dalam Doa Rosario Suci.


TAHAP PERTAMA MEDITASI
Pada  permulaan menjalani meditasi kita umumnya menjadi antusias. Kita menemukan cara berdoa yang sederhana .  Kita memulai mempraktekan pagi dan sore dengan gembira melewati latihan latihan yang lamanya tidak kurang dari 20 menit. Kita begitu semangat menceriterakan dan mengajak teman-teman untuk turut serta Bermeditasi. Pada tingkatan yang awal ini, kita merasa bahwa kita mulai menemukan kebiasaan berdoa yang telah lama kita lupakan. Maka tahap ini juga sering disebut tahap pertobatan, suatu perbaikan hidup doa dari sedikit demi sedikit mulai mendapat perhatian. Tahap ini   kita sejajarkan dengan Biografi Yesus Kristus dalam sejarah penyelamatan manusia renungan PERISTIWA GEMBIRAyaitu peristiwa  pertama dalam Doa Rosario.


TAHAP KEDUA MEDITASI
Tidak lama kemudian, kita akan mengalami “PERISTIWA SEDIH” Peristiwa  kedua  dalam Rosario ; mengapa ? saat kita bermeditasi, kita dilanda berbagai macam tantangan dengan rasa tidak ada gunanya; sudah duduk diam, mengucapkan Mantra “ MA-RA-NA-TA” dengan tekun  pagi dan sore selama 20 menit, tapi tidak ada hasilnya apa-apa . Bahkan fikiran jadi kacau, melayang-layang, meskipun kita mendisiplinkan diri sampai kaki kaku, kesemutan, punggung sakit, pantat seperti ditusuk jarum, dari dalam menjadi protes jenuh dan  ingin mengakhiri saja, lebih baik berhenti karena tak ada gunanya. Tahap ini juga sering disebut tahap Setan Accedia” Nah peristiwa ini sungguh menyedihkan kalau kita menyerah kalah dan berhenti. Pengalaman yang seperti ini, kita MESTI BERTEKUN  dan  SEMAKIN BERTEKUN MENGUCAPKAN MANTRA DENGAN PENUH IMAN DAN KASIH, kedisiplinan harus kita tingkatkan, kekecewaan kita tinggalkan dan Kita percaya meskipun kita tidak menyadari dan tidak merasakan, Tuhan menyertai kita dalam perjalanan memasukki lorong Meditasi kita sampai tempat yang kita tuju, yaitu Bait Suci Nya, tempat Allah berada. Bertekunlah menghadapi tantangan dan godaan, seperti Yesus telah memberi  teladan ketika  Yesus berdoa di padang gurun. Dia tidak menyerah kalah tapi selalu mengatasi  godaan setan dengan tegas. Yesus menang melawan godaan, setan kalah dan terpaksa harus mengundurkan diri dari hadapan Yesus.



TAHAP KETIGA MEDITASI
Apa bila kita mampu bertekun MENGUCAPKAN MANTRA (KATA DOA SINGKAT) yang kita ucapkan terus menerus dengan penuh Iman dan Kasih, kita akan mengalami PENCERAHAN yang menguatkan niat kita untuk tetap mengucapkan Mantra selama Meditasi dan akan tetap setia melakukan Meditasi pagi dan sore minimal 20 menit. Kita percaya bahwa dikala kita tak mampu berdoa, Allah berdoa untuk kita, kita percaya bahwa Allah menyertai perjalanan kita. Disinilah kita dapat mensejajarkan Tahap perjalanan Meditasi kita ini dengan PERISTIWA TERANG pada peristiwa ketiga Doa Rosario suci.


TAHAP KEEMPAT MEDITASI
Kita percaya bersama dan dengan Rahmat Allah, bila kita tekun dalam mengucapkan Mantra dalam bermeditasi, kita akan mampu menggempur diding tebal yang telah bertahun-tahun dibangun oleh Egoisme kita. Dengan runtuhnya dinding Ego, kita mampu mengalami Kemuliaan Allah yang membawa kita Bahagia, damai, cinta Tuhan kita alami dan kita rasakan jauh mendalam  dan kekhusukan  dalam doa tercipta dengan sendirinya. Kalau kita mengalami peristiwa dalam tingkatan ini, kita mensejajarkan dengan PERISTIWA MULIA pada Doa Rosario Suci yaitu peristiwa ke empat. Dalam Bahasa yang sering dipakai oleh para Meditator adalah tahap “ APATHEIA.”  Menurut Rm.Siriakus Maria Ndulu, O’Carm dalam bukunya ‘Meditasi Kristiani jalan sederhana menjumpai Allah’ halaman  128, Tahap Apatheia  adalah ketenangan yang sungguh mendalam. Pada tahap ini fikiran dan perasaan telah ditenangkan, topeng-topeng Ego telah ditanggalkan. Dalam tahap pengalaman ini biasanya Meditator mempunyai kesadaran penuh, bersemangat dan hidup secara utuh. Rm.Siriakus mengatakan semua konsep pikiran ditransendensikan. Luar biasa…. Maka para Meditaor bertekunlah dan percayalah Rahmat sudah tersedia untuk kita dengan cuma-cuma.



TAHAP KELIMA MEDITASI

 Apabila kita berani meneruskan perjalanan kita, dengan setia mengucapkan MANTRA  dengan rendah hati penuh Iman dan Cinta, mengalirlah rahmat Allah Yang ILLAHI  yang tertinggi kepada CiptaanNya sebuah cinta tak bersyarat, yang membuat kita dimampukan untuk bersatu dengan Allah. Roh kita orang berdosa ini boleh bersatu dengan Roh Kudus. Seperti anak yang hilang telah kembali kerumah Bapa. Orang Jawa menyebut saat yang indah ini dengan kalimat yang mendalam dalam bahasa Jawa “ MANUNGGALING KAWULA GUSTI “. Hal ini mampu dialami oleh para Meditator, tidak saja karena berjuang bertekun mengucapkan Mantra tetapi mengalir dari  RAHMAT   ALLAH YANG TAK BERSYARAT DAN TANPA BATAS  kepada kita. Tahap ini sering disebut dengan  TAHAP AGAPE ( lihat buku Rm.Siriakus  hal 128 alinea terakhir )


Biasanya para Meditator yang sudah mengalami tahap APATHEIA & TAHAP AGAPE, mereka akan tetap setia bermeditasi meskipun disuatu saat  mengalami tantangan-tangan yang tidak sedikit.

Pengalaman akan Allah dalam Tahap Meditasi tersebut akan mempengaruhi cara hidup para Meditator, dan bahkan memperbarui cara berfikir dan bertindak, MESKIPUN TAK PERNAH memohon apapun kepada Tuhan, orang lain boleh menikmati buahnya. Rahmat Kasih yang dialami dan diterima dari Allah Tritunggal yang Maha Cinta juga mengalir kepada sesama


Mereka hidupnya seimbang dan harmonis menjadi hamba Allah yang mampu mengatur atara doa dan karya.
 

Saturday, February 8, 2014

PERJALANAN MEDITASI

Menurut John Main, perjalanan meditasi pada intinya adalah “sebuah peziarahan ke dalam hati kita sendiri”, tempat yang paling kudus, di mana Kristus tinggal. Meditasi adalah menemukan “hidup Roh Yesus di dalam hati kita.”

Ada tahapan-tahapan yang berbeda yang harus kita lalui dalam perjalanan ini. Meskipun tahapan tersebut disuguhkan secara garis lurus dalam surat-surat selanjutnya, kita harus memahami dengan baik bahwa perjalanan ini adalah sebuah perjalanan memutar yang saling tumpang tindih, tingkatan diperdalam dengan memunculkan kembali tahapan-tahapan, menyatukan dan mengubah.
Saat pertama kali kita mulai bermeditasi, biasanya hanya sekali seminggu atau sekali sehari, disiplin ini terasa mudah dan kita memulainya dengan bergairah dan benar-benar berkomitmen pada periode meditasi kita. Tak lama kemudian, antusiasme awal ini diuji dan komitmen yang lebih dalam diperlukan untuk disiplin ini, suatu komitmen untuk dengan teguh menyatukan dua kali sesi meditasi ini ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan berjalannya waktu, latihan pengulangan mantra yang teratur ini secara berangsur-angsur membuat kita dapat meninggalkan pikiran-pikiran sadar kita. Ada saat-saat keheningan dan kediaman sejati serta sekilas kedamaian, kasih dan sukacita. Inilah saatnya untuk waspada akan adanya godaan untuk melekat pada pengalaman-pengalaman tersebut. Kita harus terus berlatih tanpa mengharapkan atau menuntut ‘hasil’ apapun juga. Pada waktunya, disiplin ini menjadi kebutuhan yang sejati.
Namun dari keheningan tersebut muncul tingkat pikiran yang berbeda – kenangan-kenangan yang ditekan, emosi-emosi dan kecemasan. Semua itu terkadang menyakitkan dan kita rasanya ingin menolak untuk duduk diam. Hal ini tidak mengejutkan, seperti yang dikatakan oleh Walter Hilton, mistikus Inggris dari abad ke 14: “ jika seseorang pulang ke rumah dan tidak menemukan apa-apa selain asap api dan istri yang mengomel, dia akan segera pergi lagi”. Namun pelepasan emosi yang dulu ditekan ini sangatlah diperlukan: kita mengeluarkan airmata yang  dulu seharusnya kita keluarkan, kemarahan dan kejengkelan yang tidak dapat kita ungkapkan pada waktu yang tepat perlu kita keluarkan. Ketika kita mengetahui perasaan-perasaan tersebut dan membiarkannya terbebas, jiwa kita mengalami penyembuhan. Kita tidak perlu memahami dari mana perasaan-perasaan tersebut berasal, kita juga tidak perlu menanggapinya; sebaliknya, kita hanya perlu menerimanya sebagai kenyataan. Sr. Eileen O’Hea biasa menyebut perasaan-perasaan yang ditekan dan dibekukan ini sebagai ‘bongkahan es’, yang ketika kita membiarkannya muncul, akan meleleh dalam kasih dan cahaya Kristus.
Bisa juga terjadi, saat kita telah bermeditasi untuk beberapa lama, kita diserang oleh sesuatu yang disebut oleh Bapa dan Ibu Padang Gurun sebagai ‘setan acedia’. Setan ini mewujudkan dirinya sebagai rasa ketidak tertarikan pada meditasi dan jalan rohani; kita bosan dan segalanya tampak sia-sia. Kita mengira kita dapat menemukan hal-hal lain yang lebih berguna untuk dikerjakan daripada duduk bermeditasi. Kita menyalahkan orang lain dan lingkungan atas kurangnya perhatian kita. Inilah saat kekeringanm, kebosanan, gelisah, dan gangguan, dengan keheningan batin sesuatu dari masa lampau. Inlah ‘pengalaman padang gurun’ kita. Inilah waktunya ujian rohani kita; kita ingin menyerah. Yang dapat kita lakukan pada saat ini hanyalah bertahan dalam kesetiaan pengulangan mantra. Kita menerima kebutuhan kita akan Allah dan percaya bahwa Allah menuntun kita, selalu hadir tak peduli apapun juga, mengasihi kita dan tidak akan pernah mengijinkan kita untuk mencoba di luar kekuatan kita.
Kita mulai dengan antusiasme, komitmen kita pada latihan harian bertumbuh, tetapi pada suatu saat tak terhindarkan lagi kita menghadapi ‘setan acedia’.  Kita mulai merasa bosan dan gelisah; kita merasa seolah-olah kita memasuki padang gurun. Thomas Merton, membicarakan pengalaman ‘padang gurun’ ini berkata, “Hanya pada saat kita dapat ‘melepaskan’ segalanya di dalam diri kita, semua keinginan untuk melihat, untuk mengetahui, untuk mengecap dan untuk mengalami konsolasi Allah, barulah kita benar-benar dapat mengalami kehadiran-Nya.”
Meditasi membutuhkan sebuah ‘pelepasan’, dan dengan demikian ‘pengalaman padang gurun’ adalah sebuah pengalaman yang memurnikan. Ini sebuah tantangan untuk mengatasi keterpusatan kita pada diri kita sendiri dan untuk bermeditasi tanpa imbalan, tanpa mengetahui kemana Roh Kudus membawa kita, untuk tetap bermeditasi meskipun diserang oleh gangguan-gangguan yang mendalam ini. Selama kita bertahan dan tetap setia untuk duduk melakukan latihan kita apapun yang terjadi, pada akhirnya kita akan menerobos semua halangan dan akan dibawa menuju pengenalan diri yang sejati, dimurnikan dan dikuatkan. Dengan demikian, padang gurun juga adalah jalan kita menuju Tanah Terjanji, karena menurut Evagrius, Bapa Padang Gurun: “Tidak ada setan lain yang mengikuti lebih dekat pada tumit Iblis acedia selain keadaan damai yang mendalam dan sukacita yang tak terkatakan yang keluar dari perjuangan ini”.
Para Bapa dan Ibu Padang Gurun menyebut ‘Kedamaian yang mendalam dan sukacita yang tak terungkapkan’ ini dengan sebutan ‘apatheia’, suatu ketenangan yang mendalam dan tak tergoyahkan, jiwa yang benar-benar telah disembuhkan. Mereka tahu bahwa ‘apatheia’ atau ‘kemurnian hati’ adalah syarat untuk memasuki ‘Kerajaan Allah’, berada dalam Hadirat Allah.
Yang paling dicari oleh para Bapa Padang Gurun adalah diri sejati mereka dalam Kristus. Untuk dapat melakukannya, mereka harus sepenuhnya menyangkal diri palsu yang diciptakan di bawah paksaan sosial ‘dunia’. (Thomas Merton)
Oleh karenanya ‘diri sejati kita dalam Kristus’ akan bersinar, ketika aliran pikiran dan perasaan telah ditenangkan, ketika topeng-topeng ego dan gambaran-gambaran diri palsu telah runtuh dan emosi-emosi dimurnikan. Kita kemudian mengenal diri kita sebagai ‘anak-anak Allah’, diciptakan sesuai dengan ‘citra dan keserupaan’ Allah. Ketenangan, kebahagiaan, kedamaian dan sukacita ini pada dasarnya adalah kesadaran sempurna, keterjagaan super. Kita kemudian menjadi ‘benar-benar hidup’.
Dari situ mengalirlah tahap akhir yaitu ‘agape’, pengalaman yang tertinggi, suatu rasa kebersatuan dan kesadaran universal, kasih Allah yang tak bersyarat. Dunia bentuk dan semua konsep pikiran yang dapat diketahui akan ditransendensikan. Kita tahu bahwa “Allah tak dapat dihitung dan tidak memiliki bentuk-bentuk luar” dan kita “melihat keajaiban cahaya roh kita sendiri, dan mengenal cahaya tersebut sebagai sesuatu di luar roh kita akan tetapi menjadi sumbernya”. (John Main) Kita tahu roh kita bersatu dengan Roh Kudus. Kita telah memasuki aliran kasih antara Sang Pencipta dengan yang diciptakan. Kita telah kembali ke rumah.
‘Pertama-tama seseorang harus dikembalikan kepada dirinya sendiri, dibuat di dalam dirinya seperti batu pijakan, kemudian dia dapat bangkit dan dilahirkan kembali serupa dengan Allah”. (St. Agustinus)


Kim Nataraja

Monday, January 6, 2014

Diawali dengan 'Tersenyum', Diakhiri dengan 'Bersyukur'

Ada banyak cara untuk bermeditasi, boleh dikatakan semua agama memiliki cara-cara berdoa kontemplatif seperti itu. Bahkan secara pribadi, setiap meditator mempunyai cara dan kebiasaan yang khas menuju suatu keheningan, tentunya dalam koridor 'aturan' yang dianutnya. Meskipun demikian, paling tidak ada tiga bagian dalam meditasi yang harus dilalui yaitu bagian awal, bagian pokok dan bagian akhir dari meditasi. Bagian awal adalah ketika memulai meditasi setelah mengambil posisi duduk dan menutup mata, sedangkan bagian pokok adalah ketika berada dalam keheningan dan bagian akhir adalah ketika mengakhiri meditasi sesaat sebelum membuka mata.
Berpikir Positif
Setelah mengambil posisi duduk, entah bersila, posisi lotus atau duduk di kursi, maka kita bisa memulai meditasi dengan menutup mata. Bisa juga dengan diiringi oleh musik ringan yang melodius dengan irama lambat. Mulailah kita mengambil nafas panjang menghirup udara sampai mengisi seluruh rongga perut dan kemudian menghembuskannya secara perlahan sampai habis. Ulangi lagi mengambil nafas panjang seperti tersebut di atas dua sampai lima kali lagi, sesudah itu bernafas secara alami JANGAN PIKIRKAN LAGI tentang cara bernafas itu.
Pada saat itulah kita mulai meredam hiruk-pikuk pikiran kita, terutama pikiran-pikiran negatif seperti kecemasan, dendam, iri hati, ketakutan dan sebagainya. Usahakan untuk tersenyum agar timbul pikiran yang positif sehingga ada perasaan sejuk, damai dan sukacita. Itulah yang menghantar kita menuju keheningan, tanpa suara, tanpa musik, betul-betul sebuah keheningan yang murni. Mulailah kita melantunkan mantra 'ma-ra-na-tha' dalam  hati. Akan tetapi ketika setan Accedia mulai beraksi, dan lantunan 'ma-ra-na-tha' mulai kendor serta pelanturan mulai mendominasi pikiran, kita bisa mengulang kembali menarik nafas panjang seperti di atas, baru kemudian mengucapkan kembali mantra kita untuk meneruskan meditasi.
Merasa Bersyukur
Ketika alarm sebagai tanda waktu berakhirnya meditasi berbunyi, muncullah perasaan bersyukur dan berterima kasih. Betapa tidak, jiwa kita telah diisi dengan energi spiritual karena kerinduan akan Allah telah dipenuhi dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sungguh, sebuah pengalaman dilimpahi KASIH oleh Roh Allah yang membuat iman kita semakin teguh. Seperti halnya ketika mengawali meditasi dengan 'tersenyum',  pada saat mengakhiri meditasi dengan 'bersyukur' pun semua dilakukan dalam hati, tidak ada yang eksplisit, semua dalam keheningan.

Eddi Nugroho

Meditator MK Serpong

Friday, December 6, 2013

Kedalaman Sebuah Keheningan

Dalam pengertian secara umum, bermeditasi berarti masuk ke dalam sebuah keheningan yaitu  berdiam diri, tanpa kata, tanpa suara bahkan tanpa imajinasi. Kondisi kontemplatif saat bermeditasi dapat dicapai dengan cara mengendalikan pikiran untuk memperlambat simpang-siurnya pikiran itu sendiri. Dapatlah dirasakan, pada saat kesibukan meningkat akan membuat aktivitas fisik yang meningkat pula dan tentu saja aktivitas otak pun meningkat. Apalagi ketika melakukan pekerjaan rumit yang menuntut kerja otak yang ekstra keras, bisa membuat pening dan sakit kepala

Sebaliknya ketika kita dalam keadaan rileks, maka aktivitas otak pun menjadi lebih tenang, bisa menjadi lebih fokus serta mendapatkan mood yang baik. Kira-kira keadaan pikiran yang tenang dan rileks seperti ini yang harus dikondisikan pada saat kita bermeditasi, caranya tentu bermacam-macam, termasuk yang dikembangkan oleh berbagai kelompok meditasi dengan berbagai latar belakang.

Aktivitas dan Gelombang Otak
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kerja otak melibatkan jutaan bahkan miliaran neuron (sel syaraf) di dalam otak manusia yang saling berinteraksi secara kimiawi maupun  elektris, sehingga secara keseluruhan otak memancarkan gelombang yang frekuensinya berbanding lurus dengan aktivitas otak. Frekuensi gelombang otak dapat dideteksi dan diukur dengan alat Electroencephalograph atau EEG. Merujuk literatur-literatur di antaranya dari internet //www.neurotheraphy.asia/ dan //hypnosis45.com/gelombang_otak.htm, ada empat kategori aktivitas otak ditinjau dari sudut frekuensinya yaitu:
·         Beta (14 – 100 Hz). Dalam frekuensi ini otak dalam kondisi  sadar penuh dan didominasi oleh logika. Inilah kondisi normal yang dialami sehari-hari ketika sedang terjaga (tidak tidur). Orang berada pada frekuensi ini ketika tengah bekerja, berkonsentrasi, berbicara, dan berpikir tentang masalah yang kita hadapi. Frekuensi yang tinggi ini merangsang otak mengeluarkan hormon kortisol dan norepinefrin yang dapat menyebabkan rasa cemas, khawatir, prasangka, marah, stres, dan memudahkan datangnya penyakit.
·         Alpha (8 – 13.9 Hz). Ketika otak berada dalam getaran frekuensi ini, orang akan merasa khusyu’, relaks, meditatif, nyaman dan ikhlas, tenang, dan bahagia. Namun dalam frekuensi ini muncul kemampuan menyerap informasi dengan cepat.
·         Theta (4 – 7.9 Hz). Dalam frekuensi yang rendah ini, seseorang akan berada pada kondisi sangat khusyu’, keheningan yang mendalam, kreatif, inspiratif, intuisi muncul, deep-meditation, dan “mampu mendengar” nurani bawah sadar. Inilah kondisi yang mungkin diraih oleh para ulama, biksu dan juga para meditator ketika mereka melantunkan doa ditengah keheningan malam pada Sang Ilahi.
·         Delta (0,1 – 3,9 Hz). Frekuensi terendah ini terdeteksi ketika orang tengah tertidur pulas tanpa mimpi. Dalam frekuensi ini otak memproduksi human growth hormone yang baik bagi kesehatan. Bila seseorang tidur dalam frekuensi delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi, meski hanya sebentar, ia akan bangun dengan tubuh tetap merasa segar. Nurani bawah sadar – kolektif dan menyatukan – harmonis (pribadi yang utuh)

Antara Metode dan Tujuan
Beberapa komunitas spiritual ataupun kelompok-kelompok meditasi dari berbagai belahan dunia telah mengembangkan metode-metode untuk dapat mencapai kondisi gelombang otak pada frekuensi Alpha dan frekuensi Theta. Banyak metode canggih, ada yang klasik menganut tradisi ketimuran, ada pula yang instan menerapkan ilmu pengetahuan kontemporer, telah dikembangkan oleh para meditator untuk mencapai kondisi tersebut. Bahkan, definisi dan tingkat pencapaian meditasi dikaitkan langsung dengan kemampuan mencapai kondisi frekuensi gelombang otak ini, sehingga ada kelompok meditasi yang mempunyai sistem pemeringkatan mulai dari tingkat pemula sampai tingkat master.
Yang menarik ada kelompok meditasi sekular di Barat  menyatakan bahwa frekuensi Theta adalah frekuensi yang ber-Daya Ilahi di alam semesta, sehingga dengan bermeditasi sambil mengucapkan suatu 'affirmasi' yang diinginkan, akan melempar 'affirmasi' tersebut ke alam semesta dan cepat atau lambat, alam semesta akan merespon dan mendukung terkabulnya 'affirmasi' tersebut. Demikian pula ada program meditasi untuk tujuan-tujuan praktis seperti misalnya penyembuhan, pengembangan kepribadian, kepemimpinan,  peningkatan performance bagi para profesional dan sebagainya yang mensyaratkan bermeditasi sampai gelombang Theta dan hasilnya cukup membuat kita terkagum-kagum ketika  mendengar 'success story' mereka.

Hening itu Hening
Akan tetapi dalam rekoleksi Meditasi Kristiani Paroki St. Monika Serpong pada Bulan Juli 2013 yang lalu, Suster Pia dari Ursulin sebagai narasumber mengatakan bahwa semua praktisi Meditasi Kristiani adalah 'beginner'. Benar juga, karena ketika bermeditasi, kita 'masuk' ke dalam hadirat kekuatan Sang Maha Kudus yang super dahsyat  sehingga tidak mungkin kita merasa menjadi master, justru yang muncul adalah perasaan bersyukur dari seorang hamba yang tak berguna.
Keheningan memang penting, tetapi itu bukan tujuan meditasi melainkan hanya sarana mencapai kedekatan dengan Allah Tritunggal. Tidaklah menjadi soal, pada frekuensi mana gelombang otak kita telah dapat dikondisikan sewaktu meditasi. Ada sesuatu hal yang jauh lebih penting, yaitu ketika kita dapat menemu-kenali Roh Allah dalam hati kita serta merasakan kelembutan energi cinta kasih sejati  yang merasuk ke dalam jiwa kita.  Ibarat berkomunikasi dengan gelombang radio, tidak perlu terlalu dipermasalahkan pada frekuensi berapa kita gunakan, tetapi bobot dan isi komunikasinya itulah yang lebih penting.
Meskipun demikian berlatih mengalami  keheningan, dengan bersetia mendaraskan 'MA-RA-NA-THA' tetaplah secara disiplin kita jalankan setiap hari, pagi dan malam hari. Seperti sabda Yesus : “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Matius 6:6),  jelas menunjukkan arti pentingnya keheningan sebagai suatu proses pencarian spiritual. Patut kiranya kita menyimak tulisan Suster Veronika Ari Harjanti FMM dalam bukunya berjudul ”Kuntum-kuntum Keheningan Mengalami Kehadiran Allah yang Tersembunyi dalam Aneka Rona Kehidupan”,
Hening itu...
      sederhana...
      biasa saja dan istimewa...
Hening itu...
      apa adanya...
      tanpa menuntut...
Hening itu...
      jujur...
      dan mendengarkan
Hening itu...
      sukacita...
      dan berbagi
Hening itu...
      hening...

Eddi Nugroho
Meditator MK Serpong


Thursday, November 21, 2013

Bertolaklah Ke Tempat Yang Lebih Dalam

Pada tanggal 13-14 juli 2013 lalu ,Meditator Meditasi Kristiani (MK) St Monika berangkat untuk Rekoleksi di villa Immanuel ,Cibodas – Cipanas , jumlah yang mengikuti rekoleksi 34 orang adalah gabungan dari empat kelompok MK yaitu : kelompok hari selasa pagi, kelompok jumat pagi,kelompok jumat malam dan kelompok sabtu pagi.

Rekoleksi kali ini diadakan dalam rangka HUT Meditasi Kristiani paroki St Monika Serpong yang ke-3, dan sebagai narasumber adalah Suster Pia dari Ursulin Bandung. Tema dari rekoleksi ini adalah “ Bertolak ke tempat yang dalam “ ,yang dalam 5 sesi. Bagaimana dan Mengapa harus ke tempat yang lebih dalam? . Sr Pia memulai sesi dengan memperkenalkan secara singkat bagaimana awal mula mengenal Meditasi Kristiani ,yang diperkenalkan oleh seorang ibu(awam) dan bagi Sr Pia meditasi atau doa hening sudah dikenal sewaktu masuk biara Ursulin.  Dan setelah itu dilanjutkan dengan memahami isi bacaan injil Lukas 5:1-11, meditator memperoleh langkah-langkah bagaimana mendalami bacaan injil dan merefleksikan yaitu : Apakah saya punya pengalaman yang mirip dengan Simon, Kapan, Dimana itu terjadi dan Apakah dalam peristiwa ini ,saya menyakini bahwa Yesus campur tangan.  Meditator diajak  memahami 4 makna untuk “ Bertolaklah ke tempat lebih dalam “ dalam hidup ini ,yaitu :
1. Menempatkan Yesus sebagai pusat hidupku.
2. Berusaha lebih peka terhadap suara hatiku.
3. Mengatasi Ego-ku/ memanggul salib mengikuti Yesus.
4. Menemukan jati diriku.

Meditasi Kristiani adalah : sebuah bentuk doa batin kontemporer yang di kembangkan oleh Pastor John Main,seorang rahib Benediktin. Kekuatan metode doa ini terletak pada kesetiaan untuk mengucap MANTRA , yaitu sebuah “kata doa”. Mantra yang dianjurkan adalah frase “ Ma Ra Na Tha” yang berarti “Datanglah Tuhan”. Karena itu, yang utama dalam latihan rohani ini berbunyi, “DUDUKLAH DIAM, DUDUKLAH DENGAN PUNGGUNG TEGAK,  DUDUKLAH DENGAN TENANG,  TUTUPLAH MATA,  DAN UCAPKAN MANTRAMU”. ( di kutip dari buku Meditasi bersama Yesus, oleh Siriakus Maria Ndolu, O.Carm hal 37.Para meditator diajak ke tempat lebih dalam bermeditasi yaitu : Setia dan tekun dalam meditasinya yang berpusat kepada Yesus dan saat bermeditasi menerima Keheningan Ilahi yang merupakan Rahmat ,dimana  memperoleh kemampuan melepaskan/meninggalkan Ego, dosa,luka batin,yang  itu semata bukan  usaha kita melainkan  Allah memberikan Rahmat yang cukup untuk diri kita. Usaha untuk bermeditasi yang dilakukan dengan tekun pagi dan sore 20-30 menit,  bagi meditator akan semakin peka dalam mendengarkan suara hati atau Roh Kudus yang tinggal dihati kita, dan semakin mengarahkan para meditator mampu menemukan Jati Diri atau True Shelf. Untuk menemukan jati diri perlu pengorbanan (memanggl salib dan mengikuti Yesus).

Bekal Perjalanan
Rekoleksi tersebut member bekal yang berharga untuk meditator dalam kesetiaan melakukan meditasi 2x sehari (pagi dan sore). Kami para meditator semakin terbuka terhadap bimbingan Allah menuju tempat yang dalam, dipusat hati kita tempat “Bait KudusNya” dan kami rindu tinggal bersamaNya.

Memetik Buahnya
Setelah sekitar 3 bulan kami para meditator St. Monika dengan setia menjalankan meditasi, kami merasakan buahnya, Apa yang saya tulis ini sebagai pengalaman kongkrit yang disharingkan teman-teman Meditator ,yaitu :
- Kerinduan yang mendalam untuk bermeditasi.
- Kerendahan hati
- Kesabaran, biasa mengendalikan emosi, tidak balas-membalas.
- Kebijaksanaan.
- Mampu membiarkan Allah berkarya/tidak mendikte Allah.
- Semakin   mensyukuri  yang mendalam atas rahmat Allah.
- Control diri semakin nyata /membedakan Roh.
- Sadar bahwa Allah mengasihi dan selalu menyertai.
- Memiliki hati yang berbelas Kasih.
- Suka cita, bahagia,damai.
- Tenang dalam menghadapi persoalan.
- Rela berkorban dan siap melayani tanpa pamrih.
Buah meditasi ini pasti berdampak positip didalam hidup keseharian dalam pelayanan, tugas pekerjaan serta masyarakat pada umumnya.

Acara Rekoleksi ditutup dengan Misa Penutup oleh Pastur  Probo dari Gereja Santa Maria Para Malaikat Cipanas dan dilanjutkan dengan foto bersama, kemudian kembali ke Gereja St Monika BSD.


Ditulis oleh : Alexander Hudianto W.

Warisan Spiritual Para Bapa Padang Gurun

Banyak orang Katolik, ketika ditanya tentang meditasi, akan menggelengkan kepala pertanda tidak tahu, atau mengatakan bahwa meditasi hanyalah kegiatan para biarawan di balik tembok biara. Yang paling parah bahkan mengira bahwa meditasi adalah suatu ritual milik agama lain sehingga kegiatan bermeditasi termasuk kegiatan yang menyimpang dari ajaran Gereja. Padahal Gereja Katolik sangat kaya akan tradisi berupa ritual dan doa-doa yang sangat luar biasa termasuk di antaranya adalah meditasi.  
Kesan pertama ketika melihat orang bermeditasi adalah duduk diam seperti patung, entah apa yang ada dalam pikiran orang tersebut, terlihat sangat membosankan.  Padahal, kalau kita menyimak Injil, Tuhan Yesus diceritakan sering kali pergi menyendiri ke tempat sunyi (baca Matius 14:13 atau Markus 5:16), pastilah ada maksudnya hal ini diceritakan dalam Injil, dan ada sebuah kutipan yang mestinya menjadi rujukan bagi orang Kristen untuk berdoa yaitu dari Matius 6:6 “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”
Sebuah Doa Hati
Salah satu cara berkomunikasi dengan Tuhan diwujudkan dalam bentuk ‘doa’. Ada bermacam-macam cara berdoa, menurut Pastor Siriakus Maria Ndolu, OCarm dalam bukunya “Meditasi Kristiani Jalan Sederhana Menjumpai Allah” bahwa pada prinsipnya ada tiga cara berdoa yaitu berbicara, mendengarkan dan tinggal bersama. Berbicara dengan kata-kata adalah suatu cara berdoa yang paling umum, untuk meminta sesuatu atau memuji dan mengucap syukur kepada Tuhan. Akan tetapi, apabila Dia sudah bersemayam di dalam hati kita, seperti kata Santo Paulus: “Kristus ada di dalam dirimu” (Kol 1:27), tentulah berdoa pribadi dengan kata-kata yang panjang lebar menjadi kurang berarti karena Dia sudah mengetahui segala sesuatunya. Yang perlu kita lakukan adalah duduk diam dalam keheningan menyadari dan “merasakan kehadiranNya”.
Dalam persatuan roh itulah terjadi interaksi yang mengatasi segala kendala berbahasa, karena itulah menjadi doa tanpa kata. Kita dapat duduk diam secara rileks dengan punggung tegak, dan agar keheningan dapat tercapai, kita memusatkan secara mendalam/konsentrasi pada kata doa singkat atau disebut mantera yang menghantar kepada Allah dengan mendaraskannya di dalam hati secara berulang-ulang. Seorang rahib Benediktin, John Main OSB, mengusulkan kata “MA-RA-NA-THA” sebagai mantera yang artinya “Tuhan Yesus datanglah” seperti yang tercantum dalam Surat Rasul Paulus kepada Umat di Korintus (1 Kor 16:22).
Sebagai pusat adalah Allah sendiri, namun tidak perlu dan tidak mungkin membayangkan Allah, termasuk mengimajinasikan pribadi Allah dalam konteks apapun, bahkan ketika mengucapkan mantera pun tanpa perlu memikirkan artinya lagi. Semua mengalir menembus ruang-waktu, tanpa berharap sesuatu yang akan terjadi dan tanpa berimajinasi. Memang pikiran tidak mungkin dikosongkan karena sewaktu bermeditasi kita dalam kondisi sadar sepenuhnya, maka ketika muncul pelanturan pikiran, kita kembali mendaraskan mantera tersebut. Demikianlah Meditasi Kristiani sederhana saja, kita dianjurkan berlatih meditasi 2 kali sehari, pagi dan malam hari masing-masing selama 20 – 30 menit. Dengan cara seperti ini memungkinkan orang awam yang sibuk bekerja masih bisa mempraktekkan meditasi dalam kehidupan sehari-hari.
Komunitas Global Meditasi Kristiani
Sangat disayangkan apabila kekayaan spiritual seperti ini kurang dikenal oleh umat Katolik. Hampir semua agama memiliki cara dan metode tersendiri untuk bermeditasi, demikian pula dalam biara-biara di lingkungan Gereja Katolik memiliki banyak tradisi ritual bermeditasi. Lectio Divina misalnya, kalau boleh diambil sebagai contoh, yaitu dengan mempraktekkan suatu perenungan yang mendalam pada bacaan Kitab Suci.
Sebelum menjadi pastor, sekitar tahun 1953 John Main bekerja di Departemen Luar Negeri Inggris dan ditugaskan di Kuala Lumpur, Malaysia, di mana dia berkenalan dengan seorang guru Hindu bernama Swami Satyananda. John Main berkesempatan mendalami praktek meditasi guru Hindu tersebut. Setelah masuk biara, John Main membandingkan praktek yang hampir sama dilakukan oleh para Bapa Padang Gurun pada abad-abad awal ke-Kristenan terutama melalui tulisan seorang pertapa bernama Johanes Kasianus dalam buku Institutes dan Conferences. Kemudian John Main menuliskan buku yang sangat terkenal menjadi acuan dalam bermeditasi “Word into Silence, A Manual for Christian Meditation” yang berisi langkah-langkah belajar meditasi.
Pembelajaran meditasi inipun keluar menembus dinding biara dan mudah dilaksanakan oleh siapapun karena praktis dan sederhana, sehingga kemudian terbentuklah kelompok-kelompok Meditasi Kristiani. Bahkan setelah Pastor John Main OSB meninggal pada tahun 1982, beberapa tahun kemudian berdirilah World Community for Christian Meditation (Komunitas Global Meditasi Kristiani) yang merupakan jaringan kelompok Meditasi Kristiani seluruh dunia yang memiliki website http://www.wccm.org/, sedangkan untuk Indonesia telah berdiri Pusat Meditasi Kristiani Indonesia yang beralamat di RS Atma Jaya Jakarta (http://www.meditasikristiani.com/). Di lingkungan Paroki Santa Monika Serpong, kelompok Meditasi Kristiani telah berdiri sejak 3 tahun lalu, melakukan latihan tiap hari Selasa, Jumat dan Sabtu .

Eddi Nugroho
Meditator MK Serpong

Monday, September 2, 2013

Menuju Persatuan dengan Kristus

Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa banyak orang-orang hebat seperti atlet-atlet tingkat dunia, para pesohor papan atas, ilmuwan dan penemu kaliber internasional telah mempraktekkan meditasi dalam kehidupan sehari-hari mereka, tentu saja dengan caranya masing-masing. Nama-nama seperti Steve Jobs (pendiri Apple Inc.), Kobe Bryan (pemain basket NBA) dan Arnold Schwarzenegger (atlet, bintang film Hollywood dan Gubernur California) boleh disebut di antara begitu banyak lagi praktisi meditasi di kalangan orang terkenal.

Memang, beberapa referensi tentang meditasi baik  buku-buku umum yang dijual di toko-toko buku maupun beberapa situs internet menyebutkan keunggulan-keunggulan bermeditasi di antaranya: memberikan ketenangan batin,  meningkatkan kepercayaan diri, mempertajam feeling, mengurangi stres dan meningkatkan kemampuan mengatur emosi. Di sisi lain seorang paranormal terkenal mengatakan bahwa orang-orang yang suka bermeditasi itu tidak bisa kesurupan serta tidak mempan diguna-guna !! Boleh percaya, boleh tidak !

Melampaui Diri Sendiri
Bagi banyak orang boleh jadi keunggulan meditasi tersebut telah menjadi tujuan dari meditasi itu sendiri. Jujur saja,  orang  tertarik dengan meditasi adalah karena mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu dalam hal pemahaman psikologis dan pengenalan diri sendiri. Karena itu muncullah keinginan untuk mengembangkan potensi diri, atau sekedar memperoleh penyembuhan malahan ada juga yang sampai ingin menjadi 'sakti' seperti dalam legenda para pertapa tempo dulu.

Namun John Main OSB, seorang rahib Benediktin, menuliskan bahwa ada bahaya jika dalam bermeditasi, kita begitu terpukau oleh penemuan tentang diri kita sendiri dan menjadi lupa untuk melampaui diri kita menuju yang ilahi. Dalam bukunya “Door to Silence”, beliau menyebutkan bahwa memang benar ada manfaat-manfaat praktis dalam bermeditasi, tetapi jangan sampai berhenti pada pencapaian berdasarkan penilaian akal budi yang terbatas dan memisahkan diri dari  sumber yang tidak terbatas.

Tujuan Meditasi
Jadi, apa konkretnya tujuan meditasi? Menurut John Main, inti pokok meditasi adalah inti pokok Injil. Kita diundang untuk membuka hati dan pikiran kepada Allah. Panggilan dari Kitab Suci adalah bersatu dengan “Sang Kasih”. Kita harus lebih dahulu bersatu di dalam diri kita sendiri supaya dapat bersatu dengan Allah.

Dalam keheningan ketika bermeditasi, muncul kedamaian, keselarasan atau keserasian. Dengan penuh iman dan kepasrahan, serta kedisiplinan mengucapkan mantera “MA-RA-NA-THA”, secara perlahan-lahan dan setia dengan penuh iman dan kasih kita mengenali kehadiran Allah. Karena itu tujuan meditasi dalam konteks Kristiani adalah masuk ke dalam persatuan yang penuh dengan kesadaran Kristus. Nah, kalau sudah sampai pada lapisan ini, tidak ada urusannya lagi dengan kehebatan pribadi para praktisi meditasi yang telah disebutkan  di atas. Apalagi dengan mempan atau tidak mempannya diguna-guna, ini sudah di luar konteks kita.

Hanya rahmat Allah yang membimbing ke persatuan dengan yang Illahi yaitu Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, Sang Pencipta yang mencintai ciptaan-Nya dan akan memanggil kita dalam pelukan cinta-Nya.


Eddi Nugroho
Meditator MK Serpong